Munjungan adalah salah satu pantai yang ada di Trenggalek, Jawa Timur.
Tampilkan postingan dengan label wonderful indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wonderful indonesia. Tampilkan semua postingan
Kamis, 14 Desember 2017
Rabu, 12 April 2017
Kakap Merah Rumpon Cangkol - Cirebon
Cirebon, salah satu kota para Walisongo menyebarkan Islam ini berada di pesisir laut Jawa. Kota yang berada di wilayah Provinsi Jawa Barat in telah menjadi kota transit sejak abad ke14. Berbagai suku bangsa para pelintas lautan pasti mampir ke kota ini, dalam perjalanan mereka menjelajah nusantara. Dan nama Cirebon yang berasal dari kata Sarumban. Cirebon pada awalnya merupakan sebuah pedukuhan kecil yang kemudian berkembang menjadi sebuah desa yang di beri nama Caruban. Caruban berarti bersatu padu atau bercampur adalah bukti bahwa Cirebon memiliki asal usul penduduknya dari berbagai suku bangsa, mulai dari Sunda, Jawa, Tionghoa, Arab. Selanjutnya pelafalan Caruban pun berubah menjadi carbon dan kemudian menjadi cerbon. Cirebon pun terus berkembang menjadi salah satu kota besar yang ada di pulau Jawa.
Cirebon yang terletak di pesisir laut Jawa banyak menyimpan potensi perairan yang menjanjikan. Nelayan pun banyak yang menggantungkan penghasilannya dari potensi perairan sekitar laut sebelah utara Cirebon. Selain menggantungkan dari potensi yang sudah ada, para nelayan juga mencoba dengan membuat rumpon untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan. Salah satu tempat yang banyak nelayan mengusahakan rumpon adalah di dearah Cangkol. Ditempat ini, nelayan mengumpulkan material rumpon, seperti ban bekas, bambu, batu atau beton sebagai pemberat, dan daun kelapa hijau. Material bambu atau ban bekas disusun menjadi blok-blok besar sebagai rumah ikan. Di sekitar bangunan rumpon di sematkan daun kelapa yang hijau sebagai rumah bertelur dan berkembangbiak anak-anak ikan. Setelah selesai disusun, rumpon ini di angkut ke atas kapal dan di bawa ke tengah laut. Dengan bantuan batu atau beton sebagai pemberat, rumpon-rumpon ini di turunkan di kedalaman laut Jawa. Kedalaman perairan ini berkisar antara 30 hingga 50 meter. Masing-masing nelayan menandai rumpon-rumponya di peta GPS, untuk memudahkan mengechek dan memanen hasilnya. Dan biasanya setelah sebulan di tanam, rumpon sudah mulai terisi dengan ikan-ikan karang, seperti kerapu, kuniran, ikan tompel, kakap merah, dan lain sebagainya. Dalam kurun waktu sebulan, rumpon ini bisa di panen sebanyak tiga hingga empat kali.
Pada satu kesempatan saya dan teman-teman mendapat kesempatan untuk turut serta salah seorang nelayan rumpon yang akan memanen hasil usahanya. Untuk menuju spot memancing di rumpon di perlukan waktu antara 3 hingga 6 jam perjalanan laut dengan kapal nelayan. Kami berangkat dari dermaga Cangkol sekitar jam 12 malam, sebelum air di sekitar dermaga surut. Segala perbekalan, umpan dan perlengakapan memancing harus segera di pindahkan ke atas kapal agar kapal bisa segera melepas jangkar. Kapal pun segera meninggalkan dermaga Cangkol. Keadaan yang masih gelap membuat kami memutuskan untuk beristirahat saja. Segera di gelar tikar dan sleeping-bag, untuk menghangatkan badan dari terpaan angin laut yang cukup kencang. Z z z z z z.
Menjelang matahari terbit, kami sudah sampai di spot memancing rumpon. Rencananya ada beberapa rumpon yang akan kami kunjungi, untuk panen ikan sekaligus mengecek kondisinya. Rumpon yang masih bagus, ikan akan terangkat banyak dan juga memiliki variasi berat yang beragam mulai dari 1 hingga 6 kg. namun kondisi yang kurang bagus, ikan-ikan targetnya kurang maksimal, kadang malah tidak ada ikannya. Segera kami menyiapkan perangkat untuk memancing, seperti joran, reel, hingga hook yang akan kami gunakan. Untuk memancing di spot rumpon, biasanya menggunakan tehnik dasaran dengan jumlah hook minimal dua. Menggunakan umpan udang putih seukuran jari, kami segera menurunkan mata kail di kedalaman 30 - 40 meter. Berada di rumpon yang sehat, ikan-ikannya sudah pasti banyak bergerombol dan variasi ikan juga banyak. Tak perlu waktu lama untuk menunggu ikan makan, bahkan sebelum pemberat di ujung mata kail menyentuh dasaran, ikan sudah menyerobot umpan udang. Strike .. strike ... dan terus strike .. ikan-ikan karang penghuni rumpon terus kami naikkan ke atas kapal, seperti kakap merah, ikan tompel( Jenaha), kerapu, dan lain sebagainya.
Namun ikan memiliki habitat untuk berburu makanan. Ikan-ikan yang senang bergerombol ini akan menghilang sekitar jam 9 pagi. Siang hari ikan-ikan ini akan mengganas lagi untuk berburu makanan.
Lewat jam 9, kami bergeser ke beberapa rumpon lain. Namun sayang tidak banyak ikan yang berhasil kami tangkap. Hanya beberapa ikan karang, seperti Jenaha dan Kuniran. Selanjutnya kami bergeser lagi ke spot yang ke tiga. Di tempat ini ikan juga tidak banyak yang memakan umpan kami. hanya ikan kuniran yang berhasil kami angkat ke atas kapal. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi antara lain, suhu dan arus air laut yang mulai berubah.
Menjelang siang kami mengakhiri memancing di sekitar rumpon laut Jawa ini, dan saatnya kembali ke dermaga Cangkol. Sungguh sangat menyenangkan dengan sensasi strike di sekitar rumpon. Perjalanan panjang menuju rumpon terbalaskan dengan strike ikan-ikan karang yang kadang memberikan perlawanan saat fight.
SALAM STRIKE ... keep fishing
STOP BOM, RACUN laut KITA ..
sumber : wikipedia
Cirebon yang terletak di pesisir laut Jawa banyak menyimpan potensi perairan yang menjanjikan. Nelayan pun banyak yang menggantungkan penghasilannya dari potensi perairan sekitar laut sebelah utara Cirebon. Selain menggantungkan dari potensi yang sudah ada, para nelayan juga mencoba dengan membuat rumpon untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan. Salah satu tempat yang banyak nelayan mengusahakan rumpon adalah di dearah Cangkol. Ditempat ini, nelayan mengumpulkan material rumpon, seperti ban bekas, bambu, batu atau beton sebagai pemberat, dan daun kelapa hijau. Material bambu atau ban bekas disusun menjadi blok-blok besar sebagai rumah ikan. Di sekitar bangunan rumpon di sematkan daun kelapa yang hijau sebagai rumah bertelur dan berkembangbiak anak-anak ikan. Setelah selesai disusun, rumpon ini di angkut ke atas kapal dan di bawa ke tengah laut. Dengan bantuan batu atau beton sebagai pemberat, rumpon-rumpon ini di turunkan di kedalaman laut Jawa. Kedalaman perairan ini berkisar antara 30 hingga 50 meter. Masing-masing nelayan menandai rumpon-rumponya di peta GPS, untuk memudahkan mengechek dan memanen hasilnya. Dan biasanya setelah sebulan di tanam, rumpon sudah mulai terisi dengan ikan-ikan karang, seperti kerapu, kuniran, ikan tompel, kakap merah, dan lain sebagainya. Dalam kurun waktu sebulan, rumpon ini bisa di panen sebanyak tiga hingga empat kali.
Pada satu kesempatan saya dan teman-teman mendapat kesempatan untuk turut serta salah seorang nelayan rumpon yang akan memanen hasil usahanya. Untuk menuju spot memancing di rumpon di perlukan waktu antara 3 hingga 6 jam perjalanan laut dengan kapal nelayan. Kami berangkat dari dermaga Cangkol sekitar jam 12 malam, sebelum air di sekitar dermaga surut. Segala perbekalan, umpan dan perlengakapan memancing harus segera di pindahkan ke atas kapal agar kapal bisa segera melepas jangkar. Kapal pun segera meninggalkan dermaga Cangkol. Keadaan yang masih gelap membuat kami memutuskan untuk beristirahat saja. Segera di gelar tikar dan sleeping-bag, untuk menghangatkan badan dari terpaan angin laut yang cukup kencang. Z z z z z z.
Menjelang matahari terbit, kami sudah sampai di spot memancing rumpon. Rencananya ada beberapa rumpon yang akan kami kunjungi, untuk panen ikan sekaligus mengecek kondisinya. Rumpon yang masih bagus, ikan akan terangkat banyak dan juga memiliki variasi berat yang beragam mulai dari 1 hingga 6 kg. namun kondisi yang kurang bagus, ikan-ikan targetnya kurang maksimal, kadang malah tidak ada ikannya. Segera kami menyiapkan perangkat untuk memancing, seperti joran, reel, hingga hook yang akan kami gunakan. Untuk memancing di spot rumpon, biasanya menggunakan tehnik dasaran dengan jumlah hook minimal dua. Menggunakan umpan udang putih seukuran jari, kami segera menurunkan mata kail di kedalaman 30 - 40 meter. Berada di rumpon yang sehat, ikan-ikannya sudah pasti banyak bergerombol dan variasi ikan juga banyak. Tak perlu waktu lama untuk menunggu ikan makan, bahkan sebelum pemberat di ujung mata kail menyentuh dasaran, ikan sudah menyerobot umpan udang. Strike .. strike ... dan terus strike .. ikan-ikan karang penghuni rumpon terus kami naikkan ke atas kapal, seperti kakap merah, ikan tompel( Jenaha), kerapu, dan lain sebagainya.
Namun ikan memiliki habitat untuk berburu makanan. Ikan-ikan yang senang bergerombol ini akan menghilang sekitar jam 9 pagi. Siang hari ikan-ikan ini akan mengganas lagi untuk berburu makanan.
Lewat jam 9, kami bergeser ke beberapa rumpon lain. Namun sayang tidak banyak ikan yang berhasil kami tangkap. Hanya beberapa ikan karang, seperti Jenaha dan Kuniran. Selanjutnya kami bergeser lagi ke spot yang ke tiga. Di tempat ini ikan juga tidak banyak yang memakan umpan kami. hanya ikan kuniran yang berhasil kami angkat ke atas kapal. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi antara lain, suhu dan arus air laut yang mulai berubah.
Menjelang siang kami mengakhiri memancing di sekitar rumpon laut Jawa ini, dan saatnya kembali ke dermaga Cangkol. Sungguh sangat menyenangkan dengan sensasi strike di sekitar rumpon. Perjalanan panjang menuju rumpon terbalaskan dengan strike ikan-ikan karang yang kadang memberikan perlawanan saat fight.
SALAM STRIKE ... keep fishing
STOP BOM, RACUN laut KITA ..
sumber : wikipedia
Jumat, 07 April 2017
Fishing Yellow Fin Tuna - Wetar - by Riki
Yellow fin tuna atau Tuna sirip kuning atau juga biasa di singkat dengan YFT, merupakan spesies dalam keluarga Tuna. Dengan ciri-ciri disik yang mirip torpedo, YFT merupakan perenang cepat dan salah satu penjelajah lautan. YFT biasa berburu mangsa di pagi hari, sebelum matahari terbit.
Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) adalah spesies yang banyak ditemukan di perairan pelagik samudera tropis dan subtropis di seluruh dunia. Tuna sirip kuning merupakan ikan kesukaan kesukaan para penggemar olahraga memancing. Kecepatan berenangnya menjadi salah satu tantangan para angler saat "fight" setelah strike. Efek joran melengkung dan bunyi derik reel hasil strike dengan ikan berbentuk seperti torpedo ini, menjadi incaran para angler saat bermain di laut lepas. Beberapa pemancing mempercayai jika YFT merupakan ikan tercepat dan terkuat untuk bahan dalam permainan olahraga memancing. Selain itu kualitas dagingnya menjadi incaran para pecinta kuliner ikan dan juga restoran-restoran masakan Jepang, seperti shasimi.
Yellowfin Tuna adalah salah satu spesies tuna yang bisa mencapai berat lebih dari 180 kg (400 lb). Namun lebih kecil dari yang ada di sekitar samudra Atlantik yakni Tuna Sirip Biru, yang bisa mencapai lebih dari 450 kg (990 lb). Pada kedua sirip punggung dan sirip dubur, serta sirip tambahan antara sirip dan ekor, berwarna kuning cerah. Ini yang menjadikan ikan ini mendapat sebutan Sirip Kuning. Sementara di punggung kedua dan sirip anal pada spesies dewasa, hingga mendekati ekor, membentuk seperti sabit atau pedang. Sirip dada juga lebih panjang dari sirip biru tuna sejenis. Warna tubuh utamanya adalah biru metalik yang gelap, berubah menjadi perak di perut, dan memiliki sekitar 20 garis vertikal.
video : Riki yang berada di kapal Natalia mencoba menggunakan joran spinning dan umpan metal-jig Gomame. Tak perlu lama untuk menggoda ikan di sekitar perairan Wetar, Nusa Tenggara Timur ini. Di saat jam ikan frenzy, umpan metal-jig yang baru di turunkan di setengah air, langsung di hajar ikan yang sedang mencari mangsa. STRIKEEE .. dan setelah strike bunyi reel yang berdecit menjadi pemacu adrenalin pemancing untuk bertarung dengan semangat untuk segera menaklukan ikan. dan setelah bertarung beberapa waktu akhirnya seekor ikan target, YFT sukses landed di atas kapal.
Jumat, 31 Maret 2017
Kalibiru, Kulon Progo - Daerah Istimewa Jogjakarta
Pertama kali menginjakkan kaki ditempat ini, mengingatkan masa mungkin tahun 90'an. Kala itu, saya dan teman-teman "seperjuangan" hanya bisa menikmati indahnya Waduk Sermo, yang menjadi kebanggaan masyarakat Kulon Progo. Waduk Sermo di resmikan Bapak Presiden Republik Indonesia yang ke II pada tahun 1996. Waduk ini di fungsikan untuk mengairi ribuah hektar lahan persawahan yang ada di daerah Kalibawang. Waduk ini, membendung aliran sungai Ngrancah, yang memiliki interkoneski dengan beberapa sistem irigasi yang ada di Kulon Progo. Kami hadir di waduk ini, untuk mencoba eksplore beberapa spot yang potensial dengan produk perikannnya. Namun, mungkin karena, kami datang disaat musim yang kurang pas, hasil tangkapan kami pun kurang maksimal.
Kami pun melanglang buana menjelajah daerah-daerah lain di Indonesia, hingga sekitar tahun 2013, kami berkesempatan kembali lagi ke spot ini.namun tidak untuk menikmati suasana di sekitar perairan waduk Sermo, kami bergeser ke atas, tepatnya di desa Kali Biru. yaa, kali biru. salah satu destinasi wisata yang begitu terkenal seantero negeri Indonesia. Kali Biru adalah desa di kaki Bukit Menoreh, Kulon Progo pada ketinggian 450 meter di atas permukaan air laut. Dari ketinggian lokasi ini, para pelancong bisa menyaksikan kota Kulon Progo, Waduk Sermo, Gunung Merapi dan deretan pegunungan Menoreh, serta Laut Selatan. Dari tempat ini, kita bisa menyaksikan indahnya matahari terbit dan juga matahari terbenam.
Selain menyuguhkan indahnya pemandangan, tempat ini juga menyediakan berbagai tipe wisata lain, seperti outbond, wisata alam, kuliner, pendidikan, budaya, dan juga keluarga.Selain itu ada pula pondok wisata untuk pelancong yang ingin menginap, dan juga ruang pertemuan. Fasilitas lain yang menjadi kelengkapan sebuah tempat melancong juga coba di sediakan pihak tuan rumah, seperti : toilet, tempat ibadah, lahan parkir yang cukup memadai (meski kadang harus meluber sampai ke jalanan desa karena banyaknya pengunjung yang hadir).
Kami sempat hadir di tempat wisata andalan Kulon Progo ini saat melakukan peliputan untuk sebuah program travelling sebuah televisi nasional. Kami terlebih dahulu melakukan kontak dengan salah seorang pengurus tempat wisata Kali Biru, untuk berdiskusi untuk meminta ijin apakah kami bisa melakukan peliputan. Setelah di dapat kata sepakat akhirnya kami melanjutkan diskusi tentang materi apa saja yang bisa kami liput. Beberapa item yang bisa kami liput antara lain adalah pengenalan lokasi, arena permainan outdoor, dan juga spot untuk berfoto ria. Dan akhirnya kamipun menentukan waktu liputan ke Kali Biru. Segera kami meluncur ke spot wisata yang tengah membahana ini.
Dan memang sesuai dengan harapan kami, tempat ini cukup ideal untuk menjadi spot yang menjanjikan bagi pelancong untuk menikmati indahnya pemandangan sekitar kota Kulon Progo. Semua materi yang ada di lokasi ini kami ambil(shoot) dalam bentuk video yang di guide seorang host. Mulai dari perkenalan lokasi Kali Biru yang berada di mana, dilanjutkan dengan permainan outbond yang menjadi tantangan untuk menuju spot berfoto ria. Hingga akhirnya selesai di tempat untuk berfoto-foto dengan latar belakang hutan dan Waduk Sermo.
beberapa catatan, karena tempat ini cukup ramai (apalagi di hari libur/tanggal merah) pastikan anda akan melakukan apa saja. karena seperti di spot untuk berfoto, pengunjung bakal antre panjang untuk mendapatkan sesi ber-foto. siapkan juga energi yang lebih, karena jalan menuju spot utama dari area parkir cukup menanjak dan melelahkan(namun akan terbayar dengan indahnya pemandangan).
okee, tetap semangat .. keep travelling
Kami pun melanglang buana menjelajah daerah-daerah lain di Indonesia, hingga sekitar tahun 2013, kami berkesempatan kembali lagi ke spot ini.namun tidak untuk menikmati suasana di sekitar perairan waduk Sermo, kami bergeser ke atas, tepatnya di desa Kali Biru. yaa, kali biru. salah satu destinasi wisata yang begitu terkenal seantero negeri Indonesia. Kali Biru adalah desa di kaki Bukit Menoreh, Kulon Progo pada ketinggian 450 meter di atas permukaan air laut. Dari ketinggian lokasi ini, para pelancong bisa menyaksikan kota Kulon Progo, Waduk Sermo, Gunung Merapi dan deretan pegunungan Menoreh, serta Laut Selatan. Dari tempat ini, kita bisa menyaksikan indahnya matahari terbit dan juga matahari terbenam.
Selain menyuguhkan indahnya pemandangan, tempat ini juga menyediakan berbagai tipe wisata lain, seperti outbond, wisata alam, kuliner, pendidikan, budaya, dan juga keluarga.Selain itu ada pula pondok wisata untuk pelancong yang ingin menginap, dan juga ruang pertemuan. Fasilitas lain yang menjadi kelengkapan sebuah tempat melancong juga coba di sediakan pihak tuan rumah, seperti : toilet, tempat ibadah, lahan parkir yang cukup memadai (meski kadang harus meluber sampai ke jalanan desa karena banyaknya pengunjung yang hadir).
Kami sempat hadir di tempat wisata andalan Kulon Progo ini saat melakukan peliputan untuk sebuah program travelling sebuah televisi nasional. Kami terlebih dahulu melakukan kontak dengan salah seorang pengurus tempat wisata Kali Biru, untuk berdiskusi untuk meminta ijin apakah kami bisa melakukan peliputan. Setelah di dapat kata sepakat akhirnya kami melanjutkan diskusi tentang materi apa saja yang bisa kami liput. Beberapa item yang bisa kami liput antara lain adalah pengenalan lokasi, arena permainan outdoor, dan juga spot untuk berfoto ria. Dan akhirnya kamipun menentukan waktu liputan ke Kali Biru. Segera kami meluncur ke spot wisata yang tengah membahana ini.
Dan memang sesuai dengan harapan kami, tempat ini cukup ideal untuk menjadi spot yang menjanjikan bagi pelancong untuk menikmati indahnya pemandangan sekitar kota Kulon Progo. Semua materi yang ada di lokasi ini kami ambil(shoot) dalam bentuk video yang di guide seorang host. Mulai dari perkenalan lokasi Kali Biru yang berada di mana, dilanjutkan dengan permainan outbond yang menjadi tantangan untuk menuju spot berfoto ria. Hingga akhirnya selesai di tempat untuk berfoto-foto dengan latar belakang hutan dan Waduk Sermo.
beberapa catatan, karena tempat ini cukup ramai (apalagi di hari libur/tanggal merah) pastikan anda akan melakukan apa saja. karena seperti di spot untuk berfoto, pengunjung bakal antre panjang untuk mendapatkan sesi ber-foto. siapkan juga energi yang lebih, karena jalan menuju spot utama dari area parkir cukup menanjak dan melelahkan(namun akan terbayar dengan indahnya pemandangan).
okee, tetap semangat .. keep travelling
Selasa, 21 Maret 2017
fishing - pomfret, mata bongsang - kaito kreol strike - ujung kulon
Perairan lepas di Selat Sunda, sekitar Lampung Selatan, masih banyak menyimpan potensi ikan laut dalam yang masih terjaga. Di kedalaman lebih dari 100 meter, berbagai ikan-ikan predator masih bisa kita temukan, dan salah satunya adalah Mata Bongsang atau Golden Pomfret. Bagi para pecinta olah raga memancing, ikan ini merupakan salah satu favorit buruan saat menjelajaha perairan ini. Posisinya yang berada di kedalaman dan kemampuannya mempertahankan diri saat fight menjadi tantangan bagi pemancing saat berusaha menaikkannya ke permukaan.
Tehnik yang biasa di aplikasikan untuk berburu ikan nocturnal ini adalah dengan tehnik bottomfishing atau dasaran.Dan umpan yang bisa digunakan adalah berupa potongan ikan, biasanya ikan tongkol muda seukuran 15 - 20cm yang digunakan. Namun ini juga tergantung hasil dari hunting umpan yang di dapat di pelelangan atau nelayan. Ikan tongkol di potong-potong sebesar dua atau tiga jari orang dewasa. Sementara hook atau mata kail yang di gunakan adalah dengan menyusun berurutan 3 hook dalam satu rangkaian kawat sling. Masing-masing hook di pisah dengan jarang antara 5-10cm. Untuk ujung paling depan di beri kawat sling sepanjang 20 - 30cm, untuk di sambung dengan pemberat atau metal-jig dengan berat sekitar 400 - 600 gram. Dari pemberat atau metal-jig ini kemudian di sambung ke leader kenur yang kita gunakan.
Untuk meringankan usaha angler saat fight, joran yang bisa digunakan adalah joran over-head. Pilihannya adalah karena rasio putaran yang lebih banyak saat menggulung kenur. Selain itu, handling jorannya juga lebih fleksibel dan mudah saat menggunakan joran over-head.
Setelah semua perlengkapan siap, umpan potongan ikan tongkol segera dipasang pada masing-masing hook. Selanjutnya tinggal di turunkan di kedalaman lebih dari 100meter, dan juga setelah kita tentukan titik yang pas untuk berburu ikan ini. Sippp, tinggal kita tunggu strikee nya.
Ikan Mata Bongsang atau Pomfret adalah spesies dari keluarga Bramidae. Keluarga Bramidae, memiliki sekitar 20 jenis spesies. Ikan ini banyak ditemukan di perairan Atlantik, Hindia, dan juga Pasifik. Spesies yang paling besar yang pernah ditangkap adalah Atlantik Pomfret atau Brama Brama dengan panjang mencapai lebih dari 1 meter. Meskipun berbentuk seram dan kulit yang keras, daging ikan Mata Bongsang ini berwarna putih dan memiliki rasa yang manis. Hasil olahan daginya pun cukup lezat untuk beberapa jenis masakan, seperti bumbu woku, gulai kepala, masak kuning, dan lain sebagainya. Dagingnya pun cukup enak jika hanya sekedar di steam atau di grill saja, hmm soo yummy.
Sementara joran yang di gunakan adalah Kaito, yang di keluarkan parbikan Kreol Strike. Joran ini terbilang baru dalam jajaran joran yang di produksi Kreol Strike. Kaito di desain dan di produksi di Jepang dengan menggunakan Teknologi Carbon Fiber terbaik di Jepang. Dengan teknologi ini ini diharapkan joran menjadi lebih ringan dan lebih bertenaga dari pada joran-joran lain di kelasnya. Selain itu penggunaan ring dari FUJI K-SERIES SIC GUIDE menjadikan joran ini lebih bisa di andalkan dan mengantisipasi ekspetasi dari para angler yang menggunakannya. Jadi, joran ini sengaja di buat untuk para pemancing yang siap dengan kemampuan untuk bertarung dengan ikan secara efektif.
Joran Kaito tersedia dalam tiga seri Spining PE 6-10, Over-head PE 4-6, dan Over-Head PE 6-8.
sekian
Selamat memancing!! STOP RACUN dan BOM!!
Selasa, 14 Maret 2017
Fishing Barracouta - Kreol Strike Kaito - Ales Tanjung - Ujung Kulon
Barakota/Barracouta
Ikan Barakota merupakan ikan nocturnal yang cukup membuat para pemancing kerepotan. Karena giginya yang tajam seri memutuskan tali pancing, baik PE maupun senar leader. Meski demikian ikan ini merupakan salah satu ikan favorit para pecinta olahraga memancing. Pertarung yang alot dan lama seringkali ditunjukkan ikan perairan laut dalam ini.
Ikan Barakota atau Thyrsites atun (Euphrasén, 1791),
memiliki ciri tubuh yang panjang dengan sirip atas dengan duri-durinya yang banyak dari punggung hingga ekornya. ikan ini banyak ditemukan di laut belahan bumi selatan, dengan panjang dapat mencapai panjang 200 cm lebih. Meskipun berbentuk aneh, ikan ini merupakan komoditas penting secara komersial.
Ikan bergigi tajam namun jarang-jarang ini gemar memakan krustasea, cumi dan juga ikan-ikan kecil seperti teri. Barakota bisa di temukan di perairan laut dalam lebih dari 100 m dan menyukai suhu air laut antara 13 hingga 18 derajat Celsius.
Ikan Barakota bisa ditangkap, salah satunya dengan menggunakan tehnik koncer, dengan umpan potongan ikan. Dengan desain 3 hook berurut di pasang pada tali sling dan pemberat tertentu,umpan potongan ikan tongkol di pasang pada masing-masing hook. Dan selanjutnya hook dan umpan diturunkan di kedalaman air laut sekitar 130 - 150 meter. dann .. tinggal tunggu saja ikan target kita menggigit umpan yang sudah dipasang.
Selasa, 07 Maret 2017
Cast-jigging use Kuying Sniper rod
It's fuun. Ya inilah serunya dan menyenangkannya perjalanan eksplorasi menggunakan kapal Berdikari II, dari pelabuhan Pangalasiang menuju perairan Toli-toli, Sulawesi Tengah. Malam hari menjadi waktu yang tepat untuk berburu ikan-ikan predator dan kuat bertarung dengan kekuatan yang bisa membuat pemancing kewalahan.
Ales yang berada di belakang kapal mencoba memainkan joran jiggingnya, menggunakan umpan metal-jig gomame seberat 80gr. Joran yang di gunakan Ales adalah joran Kuying Sniper, yang memiliki spesifikasi panjang 6 feet dengan berat 110gram. Sementara line yang bisa di pergunakan adalah PE 0.8 - 2, dengan maksimal jig yang bisa di pergunakan adalah 80gram. Joran ini sangat cocok untuk dimainkan para ladies angler. selain ringan, handle-nya juga mudah.
Tehnik memancing cast-jig merupakan perpaduan antara tehnik casting dan jigging. Tehnik casting yang digunakan adalah mengacu dari mobilitas dari melempar dan menggulung umpan buatan. Sementara dari tehnik jigging adalah umpan yang digunakan, yakni metal-jig dengan berat di bawah 100gr dan penerapan yang berada di wilayah laut dengan kedalaman 50 - 100meter. Jadi kira-kira tehnik memancing cast-jig adalah dengan cara melempar umpan metal-jig sejauh mungkin, menunggunya turun hingga di dasar atau kedalaman yang kita inginkan, kemudian meritrive-nya seperti dalam tehnik casting.
Label:
adventure,
berdikari,
berdikari II,
cast-jig,
celebes,
celebes strait,
fish,
fishing,
fishing life,
indonesia,
saltwater,
sea,
sport fishing,
travel fishing,
wonderful indonesia
Selasa, 28 Februari 2017
Kami kecil dan Kau Mahameru
Tanpa banyak kata, hanya berdoa-semoga perjalanan kami dimudahkan dan dilancarkan.
Itulah tekad, saat menjejakkan kaki di Ranu Pane, meeting point pertama. Ditempat ini juga kami bertemu dengan porter-porter yang ramah, salah satunya adalah Suwarno(cak, opo kbre?)
Setelah persiapan personal, perbekalan, logistik, dan lain-lain kamipun segera meninggalkan pos pertama ini untuk menuju puncak Mahameru.
Itulah tekad, saat menjejakkan kaki di Ranu Pane, meeting point pertama. Ditempat ini juga kami bertemu dengan porter-porter yang ramah, salah satunya adalah Suwarno(cak, opo kbre?)
Setelah persiapan personal, perbekalan, logistik, dan lain-lain kamipun segera meninggalkan pos pertama ini untuk menuju puncak Mahameru.
Malam hari kami sampai di Ranu Kumbolo. Sebuah danau yang indah di tengah perjalanan kami menuju Mahameru. Kami bermalam di pinggir danau ini, untuk beristirahat memulihkan memulihkan tenaga untuk perjalanan panjang esok hari. Kami mendirikan tenda dome, untuk berlindung. Setelah tim porter menyiapkan makan malam dan minuman hangat, kami pun segera menyantapnya hingga tandas tak bersisa.
usai makan malam, kami segera siap untuk isitrahat malam. udara dingin sekitar danau cukup memaksa kami segera masuk ke dalam tenda dome. karena rasa lelah yang merayap di seluruh badan, kami pun segera terlelap di dalam tenda dome masing-masing. malam gelap pun segera menggelayut, dan siap segera menyambut pagi bersama kabut dan embun yang menyejukkan. suhu udara yang di bawah normal, membuat kami segera bangun dari peraduan dalam dome. sementara teman-teman porter sudah siap sedia menyiapkan menu sarapan pagi dan minuman hangat. selesai beres-beres, kami pun segera sarapan pagi. suasana sarapan pagi yang cukup mewah(menurut kami), berada di pinggir danau yang indah, dengan matahari yang bersinar dengan terang, meski dengan menu yang sederhana.
selesai sarapan, kami segera merapikan semua peralatan dan perlengkapan. kami pun segera melanjutkan perjalanan kembali.
tantangan pertama setelah danau Ranu Kumbolo, adalah Tanjakan Cinta. sebuah tanjakan dengan "berjuta cerita" dari para pendaki yang telah melintasinya.sukses menyelesaikan Tanjakan Cinta, kami sudah disambut dengan indahnya padang savana berisikan lavender yang indah, karena tengah berbunga di kawasan Oro-oro Ombo. berjalan di tengah savana yang luas ini, kami terasa sangat kecil.
selesai dari padang lavender, kami bertemu dengan rimbunnya hutan pinus. kondisi jalannya lumayan terjal, agak menanjak, sehingga membutuhkan tenaga lebih untuk menyelesaikan perjalanan di hutan ini. dan menjelang sore hari kami pun sampai di Kalimati. disini kami akan beristirahat sejenak, untuk memulihkan tenaga. teman-teman porter mendirikan tenda dome, dan mencari sumber air bersih untuk minum kami. menjelang gelap, kami pun segera mengisi perut yang sedari tadi sudah keroncongan. selasi makan, kami pun segera beristirahat, karena malam harinya sekitar pukul 00.00 kami harus segera melanjutkan perjalanan untuk menuju puncak Mahameru. sekitar pukul 23.00 teman-teman porter membangunkan kami untuk segera bersiap-siap. setelah menyiapkan perbekalan secukupnya untuk sampai pagi hari, kami pun segera berkemas, dan meninggalkan tenda di Kalimati.
rintangan yang ada di depan mata kami sudah menghadang, tanjakan curam dan bebatuan yang lumayan sebesar genggaman. hanya mengandalkan pencahayaan dari senter masing-masing kami mencoba mencari jalan yang ideal untuk di pijak. teman-teman pendaki mengistilahkan untuk jalur pendakian ini dengan "naik selangkah, turun tiga langkah". benar-benar tenaga yang prima di butuhkan untuk segera menyelesaikan pendakian di jalur ini. menjelang fajar, matahari mulai melemparkan semburatnya. dan kami pun mulai menyeleksaikan jalur pendakian yang melelahkan ini. namun semua lelah yang kami alami, terbayar dengan lunas, langsung di hadapan mata kami, hamparan awan dan gunung-gunung sekitar puncak Mahameru. ya puncak Mahameru, kami pun segera bersujud syukur, mengucap ampunan, bahwa kami kecil dari apa yang sudah tercipta oleh Yang Maha Kuasa. Ammaazzzinggg, indah, .. pemandangan yang menakjubkan, tak pernah bisa di nikmati saat kita berada di dataran rendah. rasa sombong dan takabur, lenyap di tempat ini ..Senin, 27 Februari 2017
Blue Fin Trevally_Krakatoa_Lampung
Bersama teman-teman dari Insane Fishing Club, Jakarta, saya mendapat kesempatan untuk mencoba salah satu tehnik memancing di sekitar perairan pulau Krakatoa, Lampung Selatan.
Langsung menuju spot-spot di karang dangkal, kami mencoba dengan tehnik popping dan casting. Dengan target ikan giant trevally, tenggiri, blue fin trevally.
Saya mencoba memainkan tehnik casting, menggunakan joran casting Zabre(kreol strike), minnow hardcore. Yang lain bermain popping di bagian depan boat, sementara saya bermain casting di bagian belakang kapal.
Setelah beberapa kali mencoba melemparkan minnow ke sekitar ombak, arus deras- akhirnyaaa STRIKEE. Seekor ikan berhasil hook-up di minnow saya. Dengan terus menggulung reel untuk menjaga tension dengan ikan, saya mencoba memainkan joran, supaya ikan segera merapat ke pinggir kapal. Akhirnya seekor blue fin trevally yang sukses mendarat di atas kapal. Sungguh menyenangkan bisa menaikkan salah satu ikan target.
Setelah beberapa kali mencoba melemparkan minnow ke sekitar ombak, arus deras- akhirnyaaa STRIKEE. Seekor ikan berhasil hook-up di minnow saya. Dengan terus menggulung reel untuk menjaga tension dengan ikan, saya mencoba memainkan joran, supaya ikan segera merapat ke pinggir kapal. Akhirnya seekor blue fin trevally yang sukses mendarat di atas kapal. Sungguh menyenangkan bisa menaikkan salah satu ikan target.
Blue fin trevally(the trevally sirip biru), memiliki nama latin Caranx melampygus. Nama lainnya cukup banyak, antara lain : jack sirip biru, king sirip biru, crevalle bluefinned, dan ulua biru.
The trevally sirip biru, banyak tersebar di perairan tropis samudra Hindia dan Pasifik, mulai dari Afrika Timur hingga ke Amerika Tengah, termasuk dari Jepang sampai Australia.
The trevally sirip biru, banyak tersebar di perairan tropis samudra Hindia dan Pasifik, mulai dari Afrika Timur hingga ke Amerika Tengah, termasuk dari Jepang sampai Australia.
Ikan ini bisa tumbuh dengan panjang lebih dari 1meter dan berat lebih dari 40kg.
Spesies ini mudah dikenali dari sirip birunya, moncong yang meruncing, dan banyak bintik-bintik biru dan hitam di kedua sisi bagian atas.
Blue fin trevally gemar mendiami lingkungan perairan pantai, seperti teluk, laguna, dan terumbu dangkal.
Spesies ini merupakan ikan predator yang kuat, dengan gemar berburu cumi dan krustasea.
Air Terjun Sidoharjo, Kulon Progo
Penduduk yang ramah siap menyapa setiap pelancong yang ingin menikmati indahnya pemandangan alam di wilayah kabupaten Kulon Progo ini.
Plang tanda penunjuk arah ke air terjun pun tersedia, untuk memudahkan para pelancong langsung menuju spot utama tanpa harus banyak bertanya.
Air terjun yang terletak di desa Sidoharjo, kecamatan Samigaluh, Kulon Progo ini merupakan salah satu destinasi wisata baru di kawasan ini.
Untuk menuju air terjun Sidoharjo, pengunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat.
Namun, untuk angkutan umum belum tersedia dari pusat kota menuju lokasi ini. Hanya kita bisa menyewa ojek atau mobil di sekitar ibukota kabupaten, Wates.
Dari lokasi parkir, pengunjung harus berjalan sekitar 700meter, menelusuri jalan setapak, persawahan, dan juga beberapa air terjun kecil.
Pemandangan yang indah tersaji di depan mata para pelancong dalam perjalanan menuju spot utama. Ada persawahan, pegunungan Menoreh, dan juga awan yang berarak.
Dan setelah berajalan sekitar limabelas menit akhirnya sampai juga kami di spot utama, air terjun Sidoharjo.
Sesaat melihat keindahan alam ini, terbersit kata, Ammaazzingg.
Air terjun setinggi 700meter ini sungguh mempesona di mata kami.
Deburan airnya yang menerpa kami, memaksa kami segera melepas alas kaki dan segera berendam di dalamnya.. hmmm seejukkknya.
Namun yang penting harus di perhatikan adalah suasana sekitar, karena debit airnya yang cukup besar bisa menyeret kita ke tempat yang dalam.Selain itu, musim yang harus di perhatikan, jangan datang saat musim hujan karena spot ini dalam kondisi debit air yang tinggi, sehingga kita tidak bisa menikmati indahnya air terjun.
Satu lagi yang pantang ditinggalkan saat berkunjung ke tempat yang indah, BERFOTO ria. Ya, berfoto adalah mutlak menjadi keharusan untuk mengabadikan berbagai momen yang akan menjadi kenangan sepanjang masa.
Mari berwisata keliling Indonesia, karena Indonesia kereennn!!
Kamis, 23 Februari 2017
Dive laut Alor_
Alor adalah salah satu pulau yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tanah kapur banyak mendominasi wilayah ini, sehingga tak banyak yang bisa dilakukan warga lokal untuk mengolah tanahnya sebagai lahan pertanian. Kalaupun ada usaha pertanian, lebih banyak diusahakan dalam bentuk tanaman keras.
Meski demikian, pesona laut kawasan Alor cukup membanggakan. Banyak spot-spot potensial untuk menyelam ditempat ini. Karang-karang yang masih terjaga membuat banyak penyelam berdatangan untuk menikmati keindahan bawah laut.
Bersama pemandu lokal, yang berasal dari manca, saya dan teman-teman mencoba menjelajahi beberapa spot di luar teluk Alor.
Spot menyelam di perairan ini sungguh indah dan mempesona. Berbagai karang keras dan lunak tumbuh dengan bebas, tanpa banyak terusik tangan-tangan jahil. Biota lautnya, juga sangat bervariasi, menambah indahnya pemandangan bawah laut perairan Alor.
Rabu, 08 Februari 2017
Travel Fishing_Explore Donggala sea
30 Januari 2017
Kami bertiga bertemu di bandara Soetta, Cengkareng, sekitar pukul 04.00wib di terminal 1a.
Langsung chek in, dan dapat kursi 5c,d,e.
Jam 4.30 langsung boarding di gate 4f.
Langsung chek in, dan dapat kursi 5c,d,e.
Jam 4.30 langsung boarding di gate 4f.
Penerbangan langsung ke Palu biasanya di tempuh dalam waktu 2,5 jam. Ada perbedaan waktu, satu jam antara Jakarta dan Palu(Sulawesi Tengah).
Akhirnya pada pukul 8.30wita kami mendarat di bandara Sis Al-Jufri di kota Palu.
Setelah ambil barang-barang bagasi, kami langsung bersua dengan Om Papi Samson, salah satu personil tim memancing yang akan meng-eksplore di perairan selat Sulawesi.
Selanjutnya, kami meluncur ke rumah makan SMJ, untuk sarapan nasi kuning dg lauk telur ayam, dan kering kentang. Lumayan untuk mengisi perut yang sudah kedingingan selama di perjalanan udara.
Setelah ambil barang-barang bagasi, kami langsung bersua dengan Om Papi Samson, salah satu personil tim memancing yang akan meng-eksplore di perairan selat Sulawesi.
Selanjutnya, kami meluncur ke rumah makan SMJ, untuk sarapan nasi kuning dg lauk telur ayam, dan kering kentang. Lumayan untuk mengisi perut yang sudah kedingingan selama di perjalanan udara.
Selesai sarapan yang cukup berat, segera kami meluncur ke markas Samson Fishing Club di jalan Rajawali.
Setelah beramah tamah dengan teman-teman pemancing, sekitar pukuk 10.00 kami langsung meluncur ke dermaga Pangalasiang, di kota Donggala, lewat jalan darat, dengan waktu tempuh sekitar 4 jam.
Setelah beramah tamah dengan teman-teman pemancing, sekitar pukuk 10.00 kami langsung meluncur ke dermaga Pangalasiang, di kota Donggala, lewat jalan darat, dengan waktu tempuh sekitar 4 jam.
Rombongan sempat mampir di sebuah supermarket untuk membeli beberapa kebutuan, seperti baterai, makanan kecil, juga minuman.
Di jalan menuju Pangalasiang, sempat terjadi kemacetan. Ternyata ada pawai tim sepakbola lokal yang sempat lolos ke semifinal sebuah turnamen tigkat nasional di Jakarta. Dan kami pun sempat berbarengan pesawat dari Jakarta.
Hmm kapan nyampenya ini .. guman lirih om Alam yang memboncengkan kami di mobilnya.
Lewat lohor, sekitar jam 12lewat, akhirnya kami lepas dari acara pawai tim sepakbola yang tengah bersuka cita.
13.30an mampir di Rumah Makan Itfar, di jalan trans Palu - Tolitoli, untuk sama-sama makan siang. Menu andalan warung ini adalah berbagai olahan ikan segar, mulai dari ikan bakar, ikan berkuah, dan lain sebagainya. Setelah semua kenyang kamipun segera meninggalkan rumah makan, marrii lanjutkan perjalanann.
Sekitar jam 4.00 sore kami sampai di dermaga Pangalasiang, Donggala.
Semua anggota memancing dan anak buah kapal pun segera memindahkan barang-barang dari mobil menuju kapal Berdikari2.
Untuk menuju ke spot utama memancing, di perlukan waktu sekitar 5jam perjalanan laut.
Sembari menikmati indahnya sunset di ufuk barat, teman-teman pemancing prepare peralatan masing-masing.
Lepas magrib kami langsung memainkna joran masing-masing
Beberapa pemancing sukses strike dogtooth tuna dan mata belok, antara lain om Topik, om Papi, Alam, pak Nachrawi.
31 01 2017
Jam 00.50 kami bergeser ke spot lain, karena arus yang lumayan kencang dan ikan tak juga banyak makan.
Jam 00.50 kami bergeser ke spot lain, karena arus yang lumayan kencang dan ikan tak juga banyak makan.
Jam 01.54 kapal Berdikari2 sampai spot ke-dua. Namun teman-teman pemancing masih tertidur, karena kecapekan.
03.00, ikan makan mulai ramai, dan hingga pukul 04.22 pesta strike terus berlanjut, beberapa yang berhasil dinaikan, antara lain dogie, skipjack, kakap merah.
Pesta terus lanjut sampe jam 06.00, dogtooth tuna dan tongkol terus mendominasi strike.
Jam 06.30 sarapan, koki membuat bubur manado, lengkap dg sambalnya .. maknyuss
06.50 kapal geser ke spot selanjutnya
Kesempatan seperti ini biasanya digunakan pemancing untuk mandi dan membersihkan diri dan sebagian menyempatkan diri untuk tidur setelah semalaman memancing dengan tehnik jigging.
Kesempatan seperti ini biasanya digunakan pemancing untuk mandi dan membersihkan diri dan sebagian menyempatkan diri untuk tidur setelah semalaman memancing dengan tehnik jigging.
Jelang 10.00, kapal kami sampai di daerah Toli-Toli, Sulawesi Tengah. Kapal mencoba eksplore beberapa spot karang atol, dengan tehnik popping dan casting. Kapal nge-drifting, untuk menyusuri spot-spot karang atol yang masih cukup terpelihara. Ikan yang berhasil di tangkap di rilis kembali, seperti Giant Trevally.
Pukul 12.00 waktunya makan siang, dengan lauk ikan masak balado, telur goreng, dan sayur lembiding masak kuah.
selesai makan siang, kapal bergeser ke spot lain.
Kapal mencoba berputar-putar di sekitar pulau-pulau kecil atau karang-karang dangkal, mencoba beberapa spot, dengah tehnik popping dan dasaran. Namun karena arus dan angin cukup kencang, kami tidak bisa memaksimalkan potensi perairan yang ada di sekitar kapal.
Menjelang sore, sekitar pukul 17.38 - kapal bergeser ke dekat pantai. Mencoba dengan tehnik jigging, namun kurang membuahkan hasil.
Malam selepas magrib, bergeser ke arah timur. Spotnya di kedalaman 60-80m, dengan target dogie dan mata belok.
Hingga pukul 10.36, msh terus berlanjut di spot, dengan beberapa ikan yang berhasil di naikkan.
Pukul 00.27 perut pun terasa lapar, dan yang paling nyoos adalah makan indomie rebus panas ditambah cumi goreng hasil tangkapan.
Pukul 01.12 hujan turun, namun teman-teman masih mencoba memainkan joran dengan tehnik dasaran juga jigging.
Dan puncaknya, menjelang pagi hujan angin yang cukup kencang, dan kapal larat(bergeser dari spot memancing kami). Anak buak kapal pun segera berkerja keras untuk segera menaikkan jangkar, dan kapal segera bergeser ke spot yang aman. Kami mencoba mencari teluk-teluk kecil di sekitar perairan ini.
Kamis pagi, 2 februari 2017
Kamis pagi, 2 februari 2017
Kapal Berdikari2, mampir ke pulau Badak, bermaksud membeli air bersih, dan beberapa kebutuhan dapur, rokok, dan juga camilan.
sekitar pukul 09.31 kapal mulai bergeser lagi, karena di pulau Badak tidak ada yang bisa di perbantukan untuk mensuplai air bersih.
Sekitar jam 11.00 - 13.00 kapal mampir ke dermaga Ogotua, untuk membeli air bersih sebanyak 2ton, dan juga beberapa kebutuhan pribadi.
Selesai mengisi air ke kapal, selanjutnya kami bergeser sekitar dua mil.
Hingga menjelang sore kami masih di sekitar spot ini, dengan eksplore menggunakan tehnik dasaran, jigging, dan popping
Namun sayang, menjelang magrib awan tampak menghitam, dan akhirnya hujan. Disekitarnya kapal kami juga terlihat gelap, awan bertambah pekat, di beberapa spot sekitar ufuk sudah hujan turun.
Namun sayang, menjelang magrib awan tampak menghitam, dan akhirnya hujan. Disekitarnya kapal kami juga terlihat gelap, awan bertambah pekat, di beberapa spot sekitar ufuk sudah hujan turun.
Friday, 3 februari 2017
Pagi sudah mulai mendung. Sekitar jam 7an mulai hujan.
Kapal bergeser dan kembali ke pelabuhan untuk berteduh.
Pagi sudah mulai mendung. Sekitar jam 7an mulai hujan.
Kapal bergeser dan kembali ke pelabuhan untuk berteduh.
Pukul 10.20 akhirnya kapal diputuskan untuk bergerak dari dermaga Ogotua - meluncur ke arah selatan.
Ombak dan angin cukup kencang , angin bisa sekitar 8 knot, dan gelombang sktr 1-2m
Ombak dan angin cukup kencang , angin bisa sekitar 8 knot, dan gelombang sktr 1-2m
1.20pm kami sudah berada disekitar perairan Donggala - ombak masih tinggi, angin juga semaking kenceng
2.30pm, kapal terpaksa merapat ke dermaga Ogoamas, Donggala
Hingga sore hari, ombak tidak juga teduh.
Jam 4 akhir ya diputuskan tim naik mobil ke Palu.
Hingga sore hari, ombak tidak juga teduh.
Jam 4 akhir ya diputuskan tim naik mobil ke Palu.
dan sebelum kembali ke Palu, kami berfoto dengan ikan tangkapan di depan kapal.
Kamis, 26 Januari 2017
Pesona Berbeda di Teluk Weda
Pelabuhan Kota Baru, Ternate
Bandara Sultan Babullah, Ternate
Dermaga Pelabuhan Kota Baru, Ternate
Pelabuhan Sofifi, Halmahera.
Desa Sawai Itepo, Weda Tengah - Halmahera Tengah
Setelah menempuh perjalanan sekitar enam jam lebih, akhirnya kami sampai di spot yang mempesona, Teluk Weda. Sayang, saat kami sampai di tempat ini hari sudah jelang malam, sehingga kami tidak bisa dengan seksama menikmati berbagi keindahan alam sekitar teluk Weda. Kami hanya sempat makan malam, dan dilanjutkan dengan istirahat.
Dengan ditemani Mr. Rod sendiri dan beberapa anak buahnya, kami mencoba menikmati indahnya pesona bawah laut teluk Weda.
Berbagai jenis karang keras dan karang lunak, tumbuh dengan bebas di kawasan ini. Spot ini sekaligus menjadi rumah yang nyaman bagi jutaan ikan, bertelur dan berkembang biak.
Karang yang sehat, membuat berbagai biota laut bisa tumbuh dengan aman dan nyaman. serta ikan-ikan yang akan berkembang biak dengan mudahnya.
Langganan:
Postingan (Atom)








