Rabu, 15 Maret 2017

Killing Field, Phnom Penh, Cambodia

Mendebarkan, itulah kesan pertama mendengar nama "Killing Field". Dan benar saja, saat menginjakkan kaki di tempat ini,  aura keangkeran sudah terasa selepas pintu gerbang utama. Sunyi dan senyap tampak dan bisa kita rasakan saat menapaki jalan beralas ubin menuju monumen utama. Sebuah gedung yang di bangun untuk mengormati para korban keganasan tentara Khmer-Merah. Tak banyak suara yang terdengar dari para pelancong. Mereka tampak serius, mencoba menebak apa yang telah terjadi di tempat ini, beberapa dekade yang lalu. Hanya suara-suara dari pemandu wisata yang mencoba mengarahkan dan menceritakan semua hal yang berkaitan dengan tempat ini.
Jika pegunjung tidak ingin ditemani pemandu, pihak pengelola menyediakan audio dalam bentuk tape, yang menjelaskan secara detail tentang killing field ini secara detail dan berurutan. Audio tape ini tersedia dalam beberapa bahasa. Namun tidak tersedia dalam bahasa Indonesia.

Di Monumen utama yang berbentuk seperti Pagoda ini terdiri dari beberapa tingkat, yang menyimpan berbagai barang-barang peninggalan para korban, seperti pakain dan perlengkapan yang digunakan. Selainnya, adalah tumpukan tulang belulang dari para korban pembantaian. Ada pula beberapa peralatan yang digunakan para tentara untuk mengeksekusi korban di tempat ini.

Terletak di kota Phnom Penh, Cambodia, lokasi ini cukup mudah untuk dijangkau para pelancong yang ini melihat sisi lain dari sejarah manusia. Beberapa moda transportasi umum ada yang melewati lokasi ini. Namun jika ingin lebih praktis dan santai, kita bisa menyewa motor atau mobil dari pusat kota.




Killing Fields adalah salah satu tempat bersejarah bagi bangsa Kamboja, dimana lebih dari sejuta manusia di bunuh dan di kuburkan bersama-sama oleh rezim Khmer-Merah yang berkuasa dari tahun 1975 hingga tahun 1979. Khmer-Merah berkuasa di Kamboja setelah memenangkan pertikaian dalam perang saudara dari tahun 1970 hingga 1975. Selama berkuasa ini, rezim komunis Khmer-Merah menangkap dan menghukum siapa saja yang dituduh memiliki hubungan dengan pemerintah sebelumnya maupun memiliki hubungan dengan pihak luar negeri, baik tenaga ahli maupun intelektual. Di bawah arahan Pol-Pot, tentara komunis Kamboja menghukum dan menguburkan mereka yang tertuduh, secara tidak manusiawi.


Ini adalah salah satu bagian di gedung utama, yakni deretan tulang tengkorak kepala para korban pembantaian dan kekejaman rezim Khmer Merah. Pajangan ini menjadi gambaran bagaimana harga dari kehidupan dan hak azasi terabaikan.

Setelah melihat berbagai peninggalan korban kekejaman rezim Khmer Merah di gedung utama, para pengunjung mulai di giring menuju sisa-sisa ladang pembantaian. Meski menyisakan ladang-ladang terbuka, aura kengerian tetap terasa di tempat ini.
Beberapa kolam atau lobang terbuka tampak di depan pengunjung. Seperti gambar di atas, adalah salah satu lokasi pembantaian yang sudah di perbaiki, dengan di pasang atap dan pagar pembatas. Di dalam lobang ini, tertulis kuburan massal bagi 450 korban manusia. Setelah di siksa dan di eksekusi hingga mati, mereka dikuburkan dalam satu lobang ini.

Yang di sebelah kiri ini adalah pohon pembantaian. Pohon ini menjadi saksi bisu, entah berapa nyawa anak kecil dan balita di eksekusi di pohon ini. Balita yang tak berdosa, oleh para prajurit Khmer di benturkan kepalanya ke tiang pohon hingga pecah, dan meninggal seketika. 
Perjalanan masih terus berlanjut hingga ke belakang areal ini. Berbagai kisah dari masing-masing lobang menggambarkan seperti apa kekejaman sebuah rezim yang tengah berkuasa.


Miriss dan sedih ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar